|
ARTIKEL
VISI : PERTANGGUNG-JAWABAN IMAN
Oleh : Pdt. Yakub B. Susabda, Ph.D./Rektor STTRII.
Amsal mengatakan bahwa “bila tidak ada visi, liarlah rakyat” (Amsal 29:18). Dengan kata lain, visi harus ada, atau hidup ini menjadi liar, tidak terkendali, tanpa arah dan tanpa pertanggung-jawaban. Webster mendefinisikan visi sebagai, “the ability to perceive something not actually visible.” Jadi, visi berkaitan dengan “special ability” yaitu kemampuan yang khusus untuk menangkap sesuatu yang tidak nampak bagi penglihatan mata, persepsi intuisi, dan kepekaan instinct pada umumnya. Visi adalah kemampuan khusus dan istimewa, dan biasanya itu ada pada seorang leader yang mempunyai kemampuan leadership yang sejati.
Dalam kaitan dengan itulah John C. Maxwell mengatakan bahwa, “almost everything rises and falls on leadership.”
Secara natural, semakin matang kepribadian seorang semakin pekalah dirinya atas hal-hal yang tersembunyi. Individu yang berkepribadian matang, seperti Mahatma Gandhi misalnya, dapat melihat dan membaca “tanda-tanda jaman,” sehingga ia tahu yang terbaik yang ia harus lakukan untuk bangsanya. Bahkan secara psikologis, kita percaya bahwa kematangan pribadi seorang juga membekali dirinya dengan kepekaan instinct dan ketajaman persepsi intuisinya. Gabungan dari semua kemampuan khusus inilah yang seringkali dikaitkan dengan karakteristik seorang “visionary leader.” Sejarah menyingkapkan, dari jaman ke jaman, dunia membutuhkan visionary leaders yang dapat menyelamatkan umat manusia dari jebakan sistim dan paradigma yang merugikan. Tuhan Allah, dalam belas kasihanNya, seringkali memberikan “special” common grace/anugerah umum yang istimewa ini untuk “balance of life”/memberi keseimbangan pada umat manusia. Munculnya Alexander the Great (356-323 BC), misalnya, telah diijinkan Allah untuk mempersiapkan dunia dengan budaya yang satu (Greek culture). Bahkan Alkitab menyaksikan tentang Firaun dan Nebukadnezar yang mendapatkan “special” common grace untuk menyelamatkan umat manusia pada jamannya. Semuanya ini adalah anugerah yang “special” meskipun semua ini sebenarnya hanyalah salah satu dari “common grace” saja.
Pemahaman Kristiani tentang visi agak berbeda. Bagi iman Kristen, visi adalah “special grace” yang hanya disediakan bagi orang-orang percaya untuk pembangunan tubuh Kristus dan peran umat Kristiani ditengah dunia. Oleh sebab itu:
I. Visi disediakan bagi setiap orang percaya, siapapun dia dan apapun jabatannya. Seorang istri dan ibu rumah tanggapun membutuhkan visi dari Tuhan, atau dia tidak mungkin mengerti apa yang harus dilakukan dan apa kehendak Allah baginya. Tanpa visi maka motivasi, arah dan tujuan perannya ditengah keluarga tidak unik sesuai dengan iman Kristen. Bahkan dihadapan Allah, perbuatan “mulia” dalam wujud pengorbanan diripun, tanpa visi, akan menjadi manifestasi tekad pribadi semata-mata dan bukan buah Roh Kudus (Gal. 5: 22-23). Perbuatan tersebut nilainya kosong seperti gema dari gong dan genta yang berkumandang (I Kor 13). Tidak heran, kepada jemaat Ephesus, Paulus mengatakan, “karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif . . . jangan kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan” (Eph. 5: 15-17).
Hal mengerti kehendak Tuhan bisa benar-benar merupakan visi oleh karena kasih karunia yang Tuhan berikan, tetapi bisa juga semata-mata manifestasi kerja cognitive seorang. Tidak heran jikalau “mengerti kehendak Tuhan” seringkali hanya menghasilkan kesibukan otak yang memikir dan mengkonsepkan ide-ide saja. Seorang individu bisa berada dalam posisi “sangat mengerti kehendak Tuhan” bahwa dirinya dipanggil untuk menjadi kepala keluarga, tetapi belum tentu ia mempunyai visi untuk mempraktekkannya. Mungkin dari mulutnya bisa keluar “pengajaran tentang panggilan menjadi kepala keluarga” dan pengajaran tersebut menjadi berkat bagi orang-orang lain, tetapi ia sendiri tidak memiliki drive/dorongan dan ia sendiri tidak pernah masuk dalam proses penghayatan dan penyusunan strategi untuk bagaimana panggilan tersebut dapat diwujudkan. Individu tersebut membutuhkan visi dari Tuhan, atau perannya sebagai kepala keluarga hanyalah peran natural yang tidak berkaitan dengan rencana dan kehendak Tuhan. Ia harus menangkap penyingkapan Tuhan atas seriusnya setiap langkah dan perjalanan hidup setiap anggota keluarganya, dan ia harus sadar bahwa mereka semua membutuhkan “peran khusus” seorang kepala keluarga. Peran khusus yang disediakan Allah melalui visi.
II. Visi diberikan sebagai “privilege” untuk ambil bagian dalam pekerjaan Tuhan.
Tuhan memanggil setiap anakNya untuk menjadi partner atau rekan kerjaNya yaitu untuk mengerjakan pekerjaan baik yang sudah disediakan Allah (Eph. 2:10). Pekerjaan tersebut bukanlah pekerjaan yang dapat dilakukan oleh mereka yang belum atau bukan anak-anak tebusan Allah. Wujud luar dan jenis pekerjaannya bisa sama saja tetapi motivasi, spirit mengerjakan dan tujuan yang akan dicapai oleh dan melalui pekerjaan tersebut sama sekali berbeda.
Alkitab menyaksikan kebenaran ini dalam berbagai bentuk. Kadang-kadang dalam bentuk pengajaran, seperti yang Paulus tuliskan kepada jemaat di Kolose; tetapi seringkali Alkitab menyaksikan aplikasi kebenaran ini dalam bentuk kehidupan dan aspek-aspeknya. Kepada jemaat Kolose, Paulus mengingatkan bahwa visi untuk mengerjakan pekerjaan khusus yang disediakan Allah berkaitan dengan tugas dan tanggung-jawab rutin dalam keluarga dan tempat kerja. Untuk itu Paulus mengatakan bahwa prinsipnya adalah, “do it as if unto the Lord/apapun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan . . .” (Kolose 3: 18-23). Dengan prinsip ini, respon jemaat untuk pekerjaan Tuhan adalah respon mereka atas visi. Meskipun jenis pekerjaannya adalah pekerjaan seorang hamba yang sederhana, tetap bagi Paulus, pekerjaan tersebut tak mungkin dapat dikerjakan dengan makna imani, jikalau spirit mengerjakannya bukan spirit meresponi visi dan menilainya sebagai “privilege”/bagian yang disediakan bagi orang percaya.
Dalam bagian lain, Alkitab menyaksikan aplikasi dari prinsip ini dalam aspek kehidupan yang lebih kompleks, meskipun demikian, semuanya harus ditafsirkan sebagai “privilege” bagi orang percaya. Daniel, misalnya, disaksikan sebagai individu yang tugas dan tanggung-jawabnya berkaitan dengan pekerjaannya sebagai pegawai di istana kerajaan Babilonia. Ia disebut sebagai hamba Tuhan yang setia, meskipun ia bukan seorang individu yang mengerjakan pemberitaan firman Tuhan secara verbal seperti layaknya nabi-nabi dalam Perjanjian Lama. Yang ia lakukan adalah pekerjaan sekuler yang wujud dan bentuknya sama saja dengan yang dilakukan hamba-hamba Nebukadnezar lainnya. Tetapi ia berbeda, bahkan seluruh pekerjaannya menyatu menjadi misi Ilahi oleh karena Daniel melakukannya sebagai response atas visi dari Tuhan. Sebagai orang Yahudi, ia rela dipilih dan dilatih oleh musuh bangsanya bahkan rela diubah namanya dari nama yang artinya “God is my judge/Allah adalah hakimku,” menjadi Beltsazar yang artinya “puji-pujian kepada Baal.” Ia memberikan seluruh kemampuan akal budi yang Allah anugerahkan untuk melakukan pekerjaan sekuler tersebut, demi untuk menghadirkan “kebenaran umum” yang dipercayakan Allah pada setiap pemerintahan dunia (Roma 13: 1-7). Ia melakukan semua itu dengan sebaik-baiknya karena baginya ia melakukan semua itu “as if unto the Lord.” Itulah response orang percaya atas visi. Karena memang dalam konteks visi, semua orang percaya adalah hamba Tuhan.
III. Visi tidak dapat diresponi dengan spirit “survival instincts”/instink untuk memelihara kehidupan.
Setiap individu mempunyai kebutuhan-kebutuhan primer dan mereka berhak untuk mencari pemenuhannya. Ada kebutuhan primer yang wujudnya “physical dan material,” ada pula yang wujudnya “security,” bahkan ada pula yang wujudnya “love and belongingness,” atau wujudnya “self-esteem,” atau “aesthetica,” atau bahkan yang tertinggi dalam wujud kebutuhan “self-actualization.” Setiap kebutuhan primer perlu mendapatkan pemenuhannya, atau individu tersebut akan selalu gelisah, dan merasa kekurangan. Nah, ditengah realita kehadiran kebutuhan primer ini, orang percaya dipanggil untuk peka dan dapat menangkap visi dari Tuhan. Pertanggung-jawaban iman menempatkan setiap orang percaya ditengah kondisi yang dilematik. Satu pihak sebagai manusia mereka tidak pernah dapat terbebas dari kebutuhan primernya, tetapi pihak lain visi dari Tuhan selalu menuntut penyangkalan diri. Berada ditengah dilema ini, kemurnian response atas visi seringkali tercemari. Sebagai contoh, pengalaman hamba-hamba Tuhan, baik dalam Alkitab maupun dalam sejarah gereja. Petrus, misalnya, yang berulang kali jatuh oleh karena coba mengintegrasikan antara visi dengan kebutuhan-kebutuhan primernya. Kedua hal yang sebetulnya tidak pernah “matched”/terpadu. Akibatnya ia tanpa sadar meresponi visi dengan “survival instincts.” Matius 16 dan Yoh 21 mencatat pengalaman Petrus yang seperti itu. Ia baru saja mendapat kasih karunia Allah (Mat 16:116, Yoh 21:15-19) dan kemudian terpeleset dalam dosa karena meresponi visi dengan “survival instincts” (Mat 16:22-23, Yoh. 21:21). Pertama ia ditegur oleh Tuhan dengan sebutan “iblis,” dan kedua dengan kata-kata “itu bukan urusanmu” (Mat 16:23, Yoh 21:22).
“Survival instincts,” selalu berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan primer manusia. Melihat kehidupan hamba-hamba Tuhan di Alkitab, kita dapat belajar tentang banyaknya dan kompleksnya manifestasi simbolik dari “survival instincts” yang ada dalam jiwa manusia. Kadang-kadang bentuknya “keberanian untuk membayar harga,” seperti yang Petrus lakukan (Yoh 18:10). Yaitu suatu sikap “heroic” yang sumbernya tekad pribadi (I Kor 13:3). Kadang-kadang bentuknya “ketekunan, pelayanan, kesetiaan,” seperti jemaat Ephesus (Wahyu 2:2-3) dan Marta saudari Maria (Luk 10:40), suatu pengabdian yang semata-mata “budaya religiosity/budaya agamawi.” Bahkan pada jaman ini, kadang-kadang bentuknya “keinginan dan tekad” dari hamba-hamba Tuhan yang rela membayar harga, tekun belajar dan belajar terus tanpa henti untuk degree atau title tertentu. Pasti alasan yang dikemukakan adalah untuk meningkatkan pelayanan kepada Tuhan, padahal realitanya sebagian besar hanyalah simbol dari pemenuhan “survival instincs.” Perasaan insecure/tidak aman dan tidak berharga dari individu-individu tersebut coba diatasi dengan mencantumkan degree dibelakang namanya, sehingga dengan demikian ia menjadi penipu diri sendiri. Suatu bentuk defense mechanism “pseudo rationalization,” karena merupakan rasionalisasi yang rapuh yang pada saat diuji tidak didukung oleh kompetensi yang sepadan.
Dengan munculnya begitu banyak sekolah teologia, dan munculnya trend pemberian ijazah tanpa akreditasi yang dapat dipertanggung-jawabkan, ada kecenderungan yang besar sekali dari hamba-hamba Tuhan untuk semakin memanjakan “survival instincts” mereka. Akibatnya, visi semakin lama semakin tidak dikenal, karena mereka memulai pelayanan merekapun dengan penipuan diri sendiri.
Bagaimana dengan STTRII? Hari ini kami mewisuda belasan mahasiswa/i. Kami tahu, ditengah pertanggung-jawaban iman kami, STTRII tidak selalu berhasil membekali wisudawan/wati dengan kepekaan terhadap visi. Itulah sebabnya, setiap wisudawan/wati tahu apakah mereka sebenarnya layak menyandang gelar yang mereka terima hari ini. Doa saya sebagai pimpinan STTRII adalah supaya mereka tidak takut untuk berdiri dihadapan Tuhan dengan integritas hamba Tuhan yang meresponi visi meskipun . . . untuk itu mereka tidak akan mencantumkan degree dibelakang nama mereka, sampai mereka membuktikan diri mereka berlayak.
|
|
|
|
|
|
|
|
|